Skip ke Konten

Clash Detection Berbasis BIM: Strategi Praktis Menekan Biaya Rework

Kontraktor sering baru “tahu masalah” saat pekerjaan sudah jalan.

Di gambar terlihat rapi. Di rapat semua setuju. Material sudah datang. Tim sudah mulai pasang.

Lalu tiba-tiba di lapangan muncul kalimat yang paling mahal dalam proyek:

“Ini tabrakan, bongkar dulu.”

Yang tabrakan bukan cuma pipa dengan balok. Tapi juga jadwal, biaya, dan kepercayaan.

Pain yang paling sering dialami kontraktor (dan biasanya berulang)

Rework yang tidak terlihat di awal

Contoh konkret: tim MEP sudah pasang ducting di plafon koridor. Setelah itu baru ketahuan ada jalur sprinkler yang harus lewat titik yang sama. Akhirnya ducting dipindah, hanger dibongkar, finishing tertunda. Biaya tenaga kerja naik, material terbuang, progress turun.

Perubahan desain “mendadak” yang sebenarnya bisa dicegah

Contoh: di area toilet, floor drain ternyata berbenturan dengan beam drop. Kalau ketahuan di tahap koordinasi, cukup ubah elevasi dan routing. Tapi karena ketahuan setelah pengecoran, pilihan jadi buruk: core drilling, ubah slope, atau bongkar sebagian.

Jadwal molor karena nunggu keputusan di lapangan

Contoh: pipa chilled water melewati shaft yang ternyata sudah penuh tray kabel dan riser lain. Tim lapangan berhenti karena harus nunggu instruksi—siapa yang geser? MEP? Electrical? Struktur? Akhirnya “holding time” tidak tercatat jelas, tapi dampaknya terasa: pekerjaan lain ikut tertahan.

Konflik antar subkon yang bikin koordinasi makin berat

Contoh: subkon plumbing merasa sudah pasang sesuai shop drawing, subkon HVAC merasa jalurnya prioritas, dan tim struktur bilang tidak boleh ada penetrasi tambahan. Ujung-ujungnya jadi debat, bukan produksi. Dan kontraktor utama yang menanggung dampak di timeline.

Masalahnya bukan di pekerja. Masalahnya di “ketahuan telat”

Banyak clash sebenarnya sudah “terlihat” sejak awal—hanya saja masih tersembunyi di tumpukan gambar 2D, revisi PDF, dan komunikasi yang terpencar.


Ketika semuanya bertemu di lapangan, itu bukan lagi koordinasi… itu sudah biaya.

Di sinilah Clash Detection jadi game-changer

Clash Detection (biasanya lewat BIM) membantu kontraktor menemukan tabrakan sebelum pekerjaan dieksekusi. Jadi masalah diselesaikan di meja koordinasi, bukan di area kerja.


Yang berubah bukan cuma “menemukan clash”, tapi dampaknya ke operasional proyek:


  • Rework turun karena benturan ketahuan lebih cepat
  • Shop drawing lebih matang dan minim revisi lapangan
  • Keputusan lebih cepat karena clash punya bukti visual (bukan debat)
  • Schedule lebih aman karena risiko bisa diantisipasi sejak awal
  • Koordinasi antar disiplin lebih rapi (struktur–arsitektur–MEP ketemu di satu model)


Sederhananya:


Kalau proyek sering bocor karena “tabrakan yang telat ketahuan”, Clash Detection adalah cara paling rasional untuk menutup kebocoran itu.


Bukan soal teknologi keren.

Ini soal mengurangi pekerjaan bongkar-pasang yang diam-diam menghabiskan profit.


Jika Anda adalah kontraktor dan ingin saya membuat contoh praktis alur implementasi Deteksi Konflik (mulai dari model, rapat koordinasi, hingga log masalah), silakan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

Transformasi Digital Konstruksi: Mengapa BIM Wajib di Proyek Strategis PUPR (IKN & Gedung Negara)
Bagaimana kewajiban penerapan Building Information Modeling (BIM) di proyek-proyek strategis PUPR seperti IKN dan Gedung Negara di atas 2.000 m² bukan sekadar aturan baru, tetapi merupakan peluang besar bagi pelaku konstruksi untuk naik kelas melalui transformasi digital yang lebih efisien, transparan, dan kompetitif?